Buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara.
Man shabara zhafira: siapa yang bersabar akan beruntung [hal.132]
Sama seperti buku pertama, Negeri 5 Menara, buku ini membawa inspirasi dan membakar semangat berjuang pembacanya. Bersama Alif, tokoh utama buku ini, pembaca dituntun tanpa ada kesan diajari atau digurui, bahwa setiap masalah; sandungan atau problema apapun dalam hidup ini, bukan alasan untuk berhenti melainkan harus tetap maju mengejar tujuan. Perjuangan UMPTN memperebutkan kursi di perguruan tinggi negeri, menggondol beasiswa ke Kanada-tempat ia belajar menjadi wartawan di televisi lokal- hingga akhirnya bisa menyelesaikan kuliah termasuk belajar menulis dari senior yang galak, tegas tapi jago nulis, dilewati Alif dengan penuh semangat, perjuangan dan ...kesabaran. Man shabara zhafira, ajaran yang ia peroleh saat belajar di PM.
Dari semua daya usaha yang membuahkan keberhasilan, hanya satu hal yang tidak tercapai olehnya, memenangkan cinta Raisa. Surat cinta yang sudah dipersiapkan dua tahun sebelumnya, untuk diserahkan saat wisuda, terpaksa dibatalkan. Mengapa? karena Raisa telah dipinang sahabatnya sendiri. Hmmm...berbeda dengan perjuangan sekolah dan hidupnya, hal yang berkaitan dengan perasaan ini adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi bukan? Lepas dari itu, rasanya Indonesia butuh banyak Alif-Alif muda yang pantang mundur, semangat dan percaya diri untuk membangun bangsa.
Ranah 3 Warna mengungkap tiga tempat Alif mengukir sejarah perjuangan hidupnya: Bandung, Amman (Yordania) dan Quebec (Kanada). Buku ini merupakan bacaan ringan yang menghibur dengan selingan humor segar apa adanya tanpa dibuat-buat tapi tetap sarat makna dan enak dibaca.
Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts
Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts
Wednesday, February 16, 2011
Sunday, July 11, 2010
A thousand years of good prayers by Yiyun Li
"It is what we sacrifice that makes life meaningful"
Mr Shi [p 203]
Buku ini merupakan kumpulan dari sepuluh cerita pendek. Cerita cerita Yiyun mengangkat kehidupan modern Cina yang kadang dikontradiksikan dengan sejarah yang kompleks yang dihidupkan dalam situasi sederhana kehidupan anggota keluarga.
Dalam cerita 'Son' misalnya, seorang ibu yang tadinya adalah anggota dari Partai Komunis kemudian setelah suaminya meninggal, ia menjadi penganut Kristen. Pada suatu masa, Han, anaknya yang sudah lama tinggal di Amerika dan bekerja di sana, kembali pulang dan menyatakan bahwa dirinya adalah seorang gay. Sang Ibu ingin agar Han menjadi penganut Kristen. Namun kisah sedih masa kecilnya, telah membawa trauma pada hidupnya. Ketika Han kecil, kekristenan adalah sesuatu yang dilarang oelh pemerintah saat itu. Han kecil mendapat hadiah sebuah Alkitab dari sahabat laki lakinya, dan ia menyimpannya demikian rupa sebagai sebuah benda yang sangat berharga. Kadang mereka berdua membaca Alkitab itu bersama dan menikmati cerita-cerita didalamnya. Namun, tak pelak, Alkitab ini ditemukan oleh sang ayah, dan kemudian dibakar oleh sang Ibu. Hal inilah yang menjadi peluru balik sang anak kepada Ibunya yang menyatakan bahwa semua itu sudah terlambat. Setelah sang Ibu yang mengetahui keadaan orientasi seksual sang anak -yang besar dalam pengaruh budaya Amerika-, tetap dapat menerima sang anak dengan penuh kasih.
Cerita lain yang menggambarkan hubungan ayah dan anak perempuan diangkat dalam cerita pendek berjudul 'A Thousand Years of Good Prayers'. Kali ini, seorang ayah mati-matian ingin mengunjungi sang putri yang telah tinggal dan menetap di Amerika, yang baru saja bercerai dari suaminya. Tujuan sang ayah, awalnya adalah ingin mengunjungi dan melihat Amerika sebagai hadiah ulang tahunnya. Namun tentu saja ini adalah alasan sang ayah agar bisa mengunjungi sang putri untuk mencari tahu kondisi sebenarnya. Sayangnya, sang putri tidak dengan terbuka menerima kehadiran sang ayah dalam rumahnya. Sifat pendiam yang merupakan ke khasannya sejak kecil, menyulitkan sang ayah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kegagalan pernikahannya. Sifat kemandirian dan budaya Amerika yang 'apa adanya' serta kekecewaan masa lalu nampak jelas dalam relasi ayah anak ini. Akhirnya, rahasia sang ayah, yang selama ini selalu dibangga-banggakan yaitu ilmuwan roket, terbuka. Ternyata, sang ayah berhenti menjadi ilmuwan saat sang ayah ketahuan mempunyai affair dengan seorang wanita tehnisi di kantornya. Sang ayah pun ditempatkan pada posisi paling bawah untuk ukuran orang yang memiliki keterampilan seperti dirinya. Saat itu, sang ayah dapat menyembunyikan kisah kantornya ini dari istri dan sang putri dengan alasan bahwa pekerjaannya adalah rahasia dan tidak boleh diceritakan kepada keluarganya. Meskipun akhirnya sang istri dan sang putri mengetahui cerita sebenarnya dari orang lain. Sekali lagi Li mengangkat kisah masa lalu menjadi peluru balik. Sang putri yang pendiam, didesak sang ayah untuk bicara, namun ia mengatakan bahwa sang ayah-lah yang telah lebih dulu diam dalam waktu yang sangat panjang saat ia bertumbuh.
Saat mengunjungi sang putri di Amerika, Mr Shi, sang ayah banyak menghabisi waktunya di taman. Akhirnya ia yang memiliki teman berbincang, yaitu seorang perempuan Iran. Dengan perempuan ini Mr Shi banyak bercerita tentang putrinya bahkan juga masa lalunya. Mr Shi mengakui bahwa ia tidak mungkin mengakui perselingkuhannya dengan wanita lain dengan mengorbankan istri dan anak perempuan yang begitu baik.
"It is what we sacrifice that makes life meaningful"
Uniknya, meski kadang komunikasi mereka berdua terjadi dengan menggunakan bahasa dari negara masing-masing, Mr Shi dan Madam menikmati waktu kebersamaan mereka. Mr Shi mengakui juga bahwa relasi ini belum pernah ia miliki sebelumnya, bahkan dengan istrinya sendiri. Mr Shi mengatakan pada Madam, wanita Iran itu:
Xiu bai shi ke tong zhou. It takes three hundred years of prayers to have the chance to cross a river with someone in the same boat.
'That we get to meet and talk to each other-- it must have taken a long time of good prayers to get us here'
Buku yang layak untuk dibaca.
Mr Shi [p 203]
Buku ini merupakan kumpulan dari sepuluh cerita pendek. Cerita cerita Yiyun mengangkat kehidupan modern Cina yang kadang dikontradiksikan dengan sejarah yang kompleks yang dihidupkan dalam situasi sederhana kehidupan anggota keluarga.
Dalam cerita 'Son' misalnya, seorang ibu yang tadinya adalah anggota dari Partai Komunis kemudian setelah suaminya meninggal, ia menjadi penganut Kristen. Pada suatu masa, Han, anaknya yang sudah lama tinggal di Amerika dan bekerja di sana, kembali pulang dan menyatakan bahwa dirinya adalah seorang gay. Sang Ibu ingin agar Han menjadi penganut Kristen. Namun kisah sedih masa kecilnya, telah membawa trauma pada hidupnya. Ketika Han kecil, kekristenan adalah sesuatu yang dilarang oelh pemerintah saat itu. Han kecil mendapat hadiah sebuah Alkitab dari sahabat laki lakinya, dan ia menyimpannya demikian rupa sebagai sebuah benda yang sangat berharga. Kadang mereka berdua membaca Alkitab itu bersama dan menikmati cerita-cerita didalamnya. Namun, tak pelak, Alkitab ini ditemukan oleh sang ayah, dan kemudian dibakar oleh sang Ibu. Hal inilah yang menjadi peluru balik sang anak kepada Ibunya yang menyatakan bahwa semua itu sudah terlambat. Setelah sang Ibu yang mengetahui keadaan orientasi seksual sang anak -yang besar dalam pengaruh budaya Amerika-, tetap dapat menerima sang anak dengan penuh kasih.
Cerita lain yang menggambarkan hubungan ayah dan anak perempuan diangkat dalam cerita pendek berjudul 'A Thousand Years of Good Prayers'. Kali ini, seorang ayah mati-matian ingin mengunjungi sang putri yang telah tinggal dan menetap di Amerika, yang baru saja bercerai dari suaminya. Tujuan sang ayah, awalnya adalah ingin mengunjungi dan melihat Amerika sebagai hadiah ulang tahunnya. Namun tentu saja ini adalah alasan sang ayah agar bisa mengunjungi sang putri untuk mencari tahu kondisi sebenarnya. Sayangnya, sang putri tidak dengan terbuka menerima kehadiran sang ayah dalam rumahnya. Sifat pendiam yang merupakan ke khasannya sejak kecil, menyulitkan sang ayah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kegagalan pernikahannya. Sifat kemandirian dan budaya Amerika yang 'apa adanya' serta kekecewaan masa lalu nampak jelas dalam relasi ayah anak ini. Akhirnya, rahasia sang ayah, yang selama ini selalu dibangga-banggakan yaitu ilmuwan roket, terbuka. Ternyata, sang ayah berhenti menjadi ilmuwan saat sang ayah ketahuan mempunyai affair dengan seorang wanita tehnisi di kantornya. Sang ayah pun ditempatkan pada posisi paling bawah untuk ukuran orang yang memiliki keterampilan seperti dirinya. Saat itu, sang ayah dapat menyembunyikan kisah kantornya ini dari istri dan sang putri dengan alasan bahwa pekerjaannya adalah rahasia dan tidak boleh diceritakan kepada keluarganya. Meskipun akhirnya sang istri dan sang putri mengetahui cerita sebenarnya dari orang lain. Sekali lagi Li mengangkat kisah masa lalu menjadi peluru balik. Sang putri yang pendiam, didesak sang ayah untuk bicara, namun ia mengatakan bahwa sang ayah-lah yang telah lebih dulu diam dalam waktu yang sangat panjang saat ia bertumbuh.
Saat mengunjungi sang putri di Amerika, Mr Shi, sang ayah banyak menghabisi waktunya di taman. Akhirnya ia yang memiliki teman berbincang, yaitu seorang perempuan Iran. Dengan perempuan ini Mr Shi banyak bercerita tentang putrinya bahkan juga masa lalunya. Mr Shi mengakui bahwa ia tidak mungkin mengakui perselingkuhannya dengan wanita lain dengan mengorbankan istri dan anak perempuan yang begitu baik.
"It is what we sacrifice that makes life meaningful"
Uniknya, meski kadang komunikasi mereka berdua terjadi dengan menggunakan bahasa dari negara masing-masing, Mr Shi dan Madam menikmati waktu kebersamaan mereka. Mr Shi mengakui juga bahwa relasi ini belum pernah ia miliki sebelumnya, bahkan dengan istrinya sendiri. Mr Shi mengatakan pada Madam, wanita Iran itu:
Xiu bai shi ke tong zhou. It takes three hundred years of prayers to have the chance to cross a river with someone in the same boat.
'That we get to meet and talk to each other-- it must have taken a long time of good prayers to get us here'
Buku yang layak untuk dibaca.
The Secret by Rhonda Byrne (2007)
Secara umum, hal yang dapat saya terima dari konsep Rahasi Bryrne ini adalah perihal penekanan untuk berpikir positif, mensyukuri atas apa yang kita miliki serta rahasia kesehatan.
Konsep berpikir positif ini mirip dengan yang pernah saya baca dalam buku Berpikir dan Berjiwa besar karya David I. Schwartz [1959] yang pertama kali saya baca saat saya duduk di bangku SMP. Schwartz menyatakan bahwa otak kita ini seperti dua keran yang memiliki fungsi keran negatif dan positif. Kitalah yang memegang kendali, keran mana yang akan kita buka. Sekali kita membuka keran positif, maka pikiran dan nilai-nilai positif lah yang akan terus keluar dan tentunya akan membawa hasil positif pula. Demikian pula sebaliknya.
Konsep pengungkapan rahasia Bryne yang kurang saya setujui adalah konsep bahwa semesta yang akan berfungsi sebagai jin yang akan melaksanakan perintah-perintah kita. Meski dalam buku Alchemist-nya Paulo Coelho, konsep peran aktif semesta ini juga diangkat, namun saya melihatnya sebagai sebuah bentuk sikap positif dan fokus pada tujuan yang ingin dicapai.
Beberapa ayat Alkitab yang dikutip juga menurut saya kurang tepat. Kutipan ini lebih menjurus pada dukungan konsep yang dikembangkan oleh Byrne, daripada memahami kutipan ayat itu dalam konteks yang sebenarnya. Apalagi kemudian menjadikan diri kita Tuhan atas semesta ini.
Rahasia kesehatan juga sebenarnya bermuara pada self-healing melalui pikiran-pikiran positif kita. Saya sependapat, karena pikiran, sifat dan sikap positif menjauhkan kita dari pikiran negatif, stress dan emosi negatif lainnya yang menyebabkan tubuh kita bertoleransi pada penyakit yang hinggap pada tubuh kita.
Meski buku dan film ini telah membawa perubahan pada banyak orang, saya tetap menilai bahwa kandungan nilai teori sukses sangat kental di dalamnya. Dan saya masih percaya bahwa Tuhanlah yang memegang kendali hidup kita.
Konsep berpikir positif ini mirip dengan yang pernah saya baca dalam buku Berpikir dan Berjiwa besar karya David I. Schwartz [1959] yang pertama kali saya baca saat saya duduk di bangku SMP. Schwartz menyatakan bahwa otak kita ini seperti dua keran yang memiliki fungsi keran negatif dan positif. Kitalah yang memegang kendali, keran mana yang akan kita buka. Sekali kita membuka keran positif, maka pikiran dan nilai-nilai positif lah yang akan terus keluar dan tentunya akan membawa hasil positif pula. Demikian pula sebaliknya.
Konsep pengungkapan rahasia Bryne yang kurang saya setujui adalah konsep bahwa semesta yang akan berfungsi sebagai jin yang akan melaksanakan perintah-perintah kita. Meski dalam buku Alchemist-nya Paulo Coelho, konsep peran aktif semesta ini juga diangkat, namun saya melihatnya sebagai sebuah bentuk sikap positif dan fokus pada tujuan yang ingin dicapai.
Beberapa ayat Alkitab yang dikutip juga menurut saya kurang tepat. Kutipan ini lebih menjurus pada dukungan konsep yang dikembangkan oleh Byrne, daripada memahami kutipan ayat itu dalam konteks yang sebenarnya. Apalagi kemudian menjadikan diri kita Tuhan atas semesta ini.
Rahasia kesehatan juga sebenarnya bermuara pada self-healing melalui pikiran-pikiran positif kita. Saya sependapat, karena pikiran, sifat dan sikap positif menjauhkan kita dari pikiran negatif, stress dan emosi negatif lainnya yang menyebabkan tubuh kita bertoleransi pada penyakit yang hinggap pada tubuh kita.
Meski buku dan film ini telah membawa perubahan pada banyak orang, saya tetap menilai bahwa kandungan nilai teori sukses sangat kental di dalamnya. Dan saya masih percaya bahwa Tuhanlah yang memegang kendali hidup kita.
Tuesday, April 6, 2010
Lesson from Microsoft from day one: go big or go home
mulailah dengan berpikir besar
Inspirasi buku Leaving Microsoft to Change the World oleh John Wood (2006)
Buat saya yang punya mimpi untuk membangun Indonesia lewat ketersediaan sumber-sumber informasi bagi masyarakatnya dan juga memandaikan mereka lewat literasi informasi, buku ini sangat, sangat inspiratif, menggugah dan membakar semangat.
Buku ini mengupas perjuangan John Wood, salah seorang karyawan andal yang terpercaya di perusahaan besar Microsoft, dalam menjawab panggilan hidupnya untuk membangun perpustakaan dan sekolah di negara-negara berkembang.
Berawal dari kunjungan John untuk berlibur di pegunungan Himalaya, Nepal, John melihat bagaimana perjuangan seorang guru yang berkeinginan untuk mengadakan banyak buku bacaan untuk anak didiknya. Dan John kembali dengan 3000 buku untuk memenuhi perpustakaan sekolah di daerah itu.
Dari buku ini, saya melihat bagaimana ethos kerja seorang karyawan Microsoft diterapkan dalam organisasi pendidikan non profit, yang bercita-cita membangun ribuan perpustakaan, sekolah, lab komputer hingga program beasiswa untuk anak-anak perempuan.
Beberapa karakterisitk mental kerja yang saya dapati dari usaha John mengembangan usaha non profit ini adalah:
1. Kerja keras. John menunjukkan kerja keras yang luar biasa dalam menggerakaan organisasi yang bernama Room to Read ini. Satu hal yang saya lihat menjadi faktor penting pendorong totalitas kerjanya adalah:
2. Passion. Hmm...saya bingung menerjemahkan kata ini ke dalam bahasa Indonesia. Passion ini bukan saja dimiliki John yang pola kerjanya tidak lagi memperhitungkan 'untung rugi', tapi saat ia merekrut staf dan tenaga sukarela untuk mengembangkan organisasinya ia juga memilih orang-orang yang mempunyai pasion yang sama.
The only way to grow qickly, but sustainably, was to hire smart people with strong work ethics, give them bold and specific goals, and stay out of their way. (p255)
3.Selalu bersikap positif. Jelas bahwa usaha yang sedang dibangun tidak selalu mendapat respon positif dari orang-orang. Salah satu usaha John dalam menghadapi respons negatif dari orang-orang terhadap usahanya ini adalah dengan bersikap positif. The only way to move forward was to focus on the positive. Selain itu, tetap fokus pada tujuan merupakan pegangan saat kita menemui kegagalan.
If there is something out there that you want to do to make the world a better place, dont focus the obstacles. Dont ask for permission. Just dive in. Dont let the naysayers get you donw (p.238)
4.Jejaring/networking. Usaha untuk berjeraring, khususnya dalam penggalangan dana, merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh John.
Young charity must have the ability to sell its vision, its business model and its programs to potential donors (p.87),
Satu hal yang bisa dijadikan tips dalam mendekati donatur adalah: mintalah uangnya. Keengganan untuk meminta merupakan salah satu kendala yang harus diatasi. Pass this barrier or the organisation will suffer. Bersamaan dengan meminta tadi, bicarakan dengan mereka, hasil apa yang sudah dicapai. Satu hal yang bisa menjadi penguat kita dalam meminta adalah salah satu pernyataannya:
Not every person who wants to change the world is going to quit their job to do so. The goal is to allow anyone, be they an investment banker, a consultant, or a school teacher, to raise funds to help us to get more schools and libraries built (p.83)
if you ask people to reach deep, to think creatively, and to produce extraordinary results, they usually will..Too often in our modern world, they are not asked. (p.236)
Kesempatan meminta kepada para donatur sebenarnya membantu mereka menjadi perpanjangan tangan mereka yang mempunyai kerinduan untuk membantu mengubah dunia, tanpa harus meninggalkan pekerjaan mereka. Dan kadang, mereka hanya perlu..diminta. Setelah itu, transparansi adalah kunci keterjagaan dan konsistensi serta komitmen Room to Read kepada para donatur sebagai pertanggung jawaban organisasi yang sehat dan bersih.
5. Loyal. Bagaimana interaksi para pekerja yang tergabung dalam organisasi ini bisa memberikan yang paling baik dari mereka punya, dan saat yang bersamaan mereka tidak pernah merasa kurang, karena baik secara pribadi maupun organisasi, mereka diperhatikan kesejahteraannya. The loyalty demand much of his people, but also lets them know that he's got their back (p149). Ini merupakan salah satu refleksi ethos kerja salah satu mantan boss John di Microsoft, Steve. Dan John belajar banyak dari beliau.
John tidak mengingkari kalau totalitasnya mengelola organisasi ini berpengaruh pada kehidupan pribadinya, seperti kehilangan kekasih, ketidakmampuannya membeli rumah bagus (yang pasti akan dia dapati dengan mudah sekiranya ia mempertahankan pekerjaannya di Microsoft) maupun kehidupan sosial dan keluarga besarnya.
Lepas dari semua itu, John tidak melihat bahwa kehidupan di Microsoft dan kehidupan di Room to Read, merupakan dua kehidupan yang terpisah. Ia mengatakan bahwa dua dunia yang berbeda itu saling berkelanjutan, bahwa apa yang diterimanya saat ia bekerja di Microsoft, yaitu financial freedom dan tool kit keterampilan manajemen, telah memberi bukti nyata sangat membantunya ketika ia membangun Room to Read.
PS: Buku ini direkomendasi oleh sahabat saya, yang juga punya mimpi yang sama untuk mencerdaskan anak bangsa lewat buku.
Inspirasi buku Leaving Microsoft to Change the World oleh John Wood (2006)
Buat saya yang punya mimpi untuk membangun Indonesia lewat ketersediaan sumber-sumber informasi bagi masyarakatnya dan juga memandaikan mereka lewat literasi informasi, buku ini sangat, sangat inspiratif, menggugah dan membakar semangat.
Buku ini mengupas perjuangan John Wood, salah seorang karyawan andal yang terpercaya di perusahaan besar Microsoft, dalam menjawab panggilan hidupnya untuk membangun perpustakaan dan sekolah di negara-negara berkembang.
Berawal dari kunjungan John untuk berlibur di pegunungan Himalaya, Nepal, John melihat bagaimana perjuangan seorang guru yang berkeinginan untuk mengadakan banyak buku bacaan untuk anak didiknya. Dan John kembali dengan 3000 buku untuk memenuhi perpustakaan sekolah di daerah itu.
Dari buku ini, saya melihat bagaimana ethos kerja seorang karyawan Microsoft diterapkan dalam organisasi pendidikan non profit, yang bercita-cita membangun ribuan perpustakaan, sekolah, lab komputer hingga program beasiswa untuk anak-anak perempuan.
Beberapa karakterisitk mental kerja yang saya dapati dari usaha John mengembangan usaha non profit ini adalah:
1. Kerja keras. John menunjukkan kerja keras yang luar biasa dalam menggerakaan organisasi yang bernama Room to Read ini. Satu hal yang saya lihat menjadi faktor penting pendorong totalitas kerjanya adalah:
2. Passion. Hmm...saya bingung menerjemahkan kata ini ke dalam bahasa Indonesia. Passion ini bukan saja dimiliki John yang pola kerjanya tidak lagi memperhitungkan 'untung rugi', tapi saat ia merekrut staf dan tenaga sukarela untuk mengembangkan organisasinya ia juga memilih orang-orang yang mempunyai pasion yang sama.
The only way to grow qickly, but sustainably, was to hire smart people with strong work ethics, give them bold and specific goals, and stay out of their way. (p255)
3.Selalu bersikap positif. Jelas bahwa usaha yang sedang dibangun tidak selalu mendapat respon positif dari orang-orang. Salah satu usaha John dalam menghadapi respons negatif dari orang-orang terhadap usahanya ini adalah dengan bersikap positif. The only way to move forward was to focus on the positive. Selain itu, tetap fokus pada tujuan merupakan pegangan saat kita menemui kegagalan.
If there is something out there that you want to do to make the world a better place, dont focus the obstacles. Dont ask for permission. Just dive in. Dont let the naysayers get you donw (p.238)
4.Jejaring/networking. Usaha untuk berjeraring, khususnya dalam penggalangan dana, merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh John.
Young charity must have the ability to sell its vision, its business model and its programs to potential donors (p.87),
Satu hal yang bisa dijadikan tips dalam mendekati donatur adalah: mintalah uangnya. Keengganan untuk meminta merupakan salah satu kendala yang harus diatasi. Pass this barrier or the organisation will suffer. Bersamaan dengan meminta tadi, bicarakan dengan mereka, hasil apa yang sudah dicapai. Satu hal yang bisa menjadi penguat kita dalam meminta adalah salah satu pernyataannya:
Not every person who wants to change the world is going to quit their job to do so. The goal is to allow anyone, be they an investment banker, a consultant, or a school teacher, to raise funds to help us to get more schools and libraries built (p.83)
if you ask people to reach deep, to think creatively, and to produce extraordinary results, they usually will..Too often in our modern world, they are not asked. (p.236)
Kesempatan meminta kepada para donatur sebenarnya membantu mereka menjadi perpanjangan tangan mereka yang mempunyai kerinduan untuk membantu mengubah dunia, tanpa harus meninggalkan pekerjaan mereka. Dan kadang, mereka hanya perlu..diminta. Setelah itu, transparansi adalah kunci keterjagaan dan konsistensi serta komitmen Room to Read kepada para donatur sebagai pertanggung jawaban organisasi yang sehat dan bersih.
5. Loyal. Bagaimana interaksi para pekerja yang tergabung dalam organisasi ini bisa memberikan yang paling baik dari mereka punya, dan saat yang bersamaan mereka tidak pernah merasa kurang, karena baik secara pribadi maupun organisasi, mereka diperhatikan kesejahteraannya. The loyalty demand much of his people, but also lets them know that he's got their back (p149). Ini merupakan salah satu refleksi ethos kerja salah satu mantan boss John di Microsoft, Steve. Dan John belajar banyak dari beliau.
John tidak mengingkari kalau totalitasnya mengelola organisasi ini berpengaruh pada kehidupan pribadinya, seperti kehilangan kekasih, ketidakmampuannya membeli rumah bagus (yang pasti akan dia dapati dengan mudah sekiranya ia mempertahankan pekerjaannya di Microsoft) maupun kehidupan sosial dan keluarga besarnya.
Lepas dari semua itu, John tidak melihat bahwa kehidupan di Microsoft dan kehidupan di Room to Read, merupakan dua kehidupan yang terpisah. Ia mengatakan bahwa dua dunia yang berbeda itu saling berkelanjutan, bahwa apa yang diterimanya saat ia bekerja di Microsoft, yaitu financial freedom dan tool kit keterampilan manajemen, telah memberi bukti nyata sangat membantunya ketika ia membangun Room to Read.
PS: Buku ini direkomendasi oleh sahabat saya, yang juga punya mimpi yang sama untuk mencerdaskan anak bangsa lewat buku.
Sunday, January 3, 2010
eat pray love (Gilbert, 2007)
Penasaran dengan film yang dibintangi oleh Julia Roberts, membuat saya ingin menikmati karya Elizabeth Gilbert ini terlebih dahulu sebelum menonton filmnya. Sempat terhenti beberapa lama setelah menghabisi setengah buku ini, meski akhirnya selesai juga di awal tahun 2010 ini.
Gilbert menceritakan pengalaman kunjungan ke tiga negara dengan tujuan yang berbeda-beda. Italy, India dan Indonesia. Italy dengan pengalaman kulinernya, India dengan pengalaman spiritualnya dan Indonesia, tempat ia mencari keseimbangan.
Tak pelak, saya menikmati bagian saat Gilbert mengunjungi Bali, Indonesia.
Ternyata, dalam buku ini dikatakan bahwa ini adalah kunjungan Gilbert ke dua kalinya ke Indonesia dan Bali.
Tujuan kunjungannya saat ini adalah 'berguru' pada Ketut Liyer, yang keduanya mempunyai kesepakatan membina hubungan mutualisme. Ketut, yang pekerjaannya adalah membaca masa depan orang dengan tangannya, menyembuhkan sakit penyakit, memimpin upacara keagamaan, - mengajarkan pada Gilbert apa yang ia ketahui. Sedangkan Gilbert, mengajarkan bahasa Inggris pada Ketut Liyer.
Dalam beberapa pekan, Gilbert sudan memiliki teman-teman Bali-nya dan juga expatriate yang sedang ada di Bali. Sampai akhirnya Gilbert menemukan cintanya pada Felipe. Keduanya pernah gagal dalam pernikahan dan Felipe begitu jatuh cintanya pada Elizabeth.
Elizabeth Gilbert tidak mengacu pada agama tertentu saat ia mencari Tuhannya. Nampaknya ia mencari keselarasan dengan alam raya melalui ritual yang dipelajarinya di India. Pun ketika ia berguru pada Ketut Liyer. Tidak terlalu jelas terungkap apakah akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya. Namun ia menyatakan dengan jelas:
The task in Indonesia was to search for balance, but I dont feel like I'm searching for anything anymore because the balance has somehow naturally come into place. (hal.272)
Gilbert menceritakan pengalaman kunjungan ke tiga negara dengan tujuan yang berbeda-beda. Italy, India dan Indonesia. Italy dengan pengalaman kulinernya, India dengan pengalaman spiritualnya dan Indonesia, tempat ia mencari keseimbangan.
Tak pelak, saya menikmati bagian saat Gilbert mengunjungi Bali, Indonesia.
Ternyata, dalam buku ini dikatakan bahwa ini adalah kunjungan Gilbert ke dua kalinya ke Indonesia dan Bali.
Tujuan kunjungannya saat ini adalah 'berguru' pada Ketut Liyer, yang keduanya mempunyai kesepakatan membina hubungan mutualisme. Ketut, yang pekerjaannya adalah membaca masa depan orang dengan tangannya, menyembuhkan sakit penyakit, memimpin upacara keagamaan, - mengajarkan pada Gilbert apa yang ia ketahui. Sedangkan Gilbert, mengajarkan bahasa Inggris pada Ketut Liyer.
Dalam beberapa pekan, Gilbert sudan memiliki teman-teman Bali-nya dan juga expatriate yang sedang ada di Bali. Sampai akhirnya Gilbert menemukan cintanya pada Felipe. Keduanya pernah gagal dalam pernikahan dan Felipe begitu jatuh cintanya pada Elizabeth.
Elizabeth Gilbert tidak mengacu pada agama tertentu saat ia mencari Tuhannya. Nampaknya ia mencari keselarasan dengan alam raya melalui ritual yang dipelajarinya di India. Pun ketika ia berguru pada Ketut Liyer. Tidak terlalu jelas terungkap apakah akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya. Namun ia menyatakan dengan jelas:
The task in Indonesia was to search for balance, but I dont feel like I'm searching for anything anymore because the balance has somehow naturally come into place. (hal.272)
Subscribe to:
Posts (Atom)