Monday, March 17, 2014

Memang Jodoh oleh Marah Rusli (2013)

Istrinya tunggal, hanya seorang yaitu Nyai Radin Asmawati. 
Tak ada yang lain
(hal.216)

Pertama kali melihat buku ini di toko buku, saya kaget. Bagaimana mungkin, Marah Roesli menerbitkan buku baru? Penasaran saya buka halaman pembuka buku ini, dan ternyata tertulis dalam wasiatnya bahwa buku ini boleh diterbitkan jika para tokoh yang terlibat dalam buku ini sudah meninggal. Meskipun tidak diakui secara langsung bahwa buku ini merupakan autobiografi Pak Marah, namun ada anggapan bahwa tokoh utama, Hamli adalah sang penulis buku ini.

Hal yang menarik bagi saya adalah kebulatan sikap tokoh Ramli untuk menolak segala bentuk adat istiadat kampung halamannya, Sumatra Barat dalam urusan pernikahan.  Ramli berpegang teguh untuk hanya memiliki satu istri dan keteguhan itu terbukti hingga ia tua dan beranak cucu.  Segala bentuk usaha sanak keluarga untuk menjodohkan dengan perempuan Minang setelah pernikahannya, berhasil ditampiknya.

Sebagai perempuan, tokoh Ramli adalah tokoh idola. Teguh berpendirina dengan siap menerima konsekuensi yang harus dihadapinya. Terus berjuang melawan adat istiadat yang dianggapnya tidak sejalan dengan prinsip hidupnya dan dengan demikian, ia telah menaruh perempuan sebagai mahluk yang patut dicintai sepenuh hati, jiwa dan raga hingga maut memisahkan.

Setelah membaca buku ini, dahaga saya terhadap buku-buku sastra menjadi-jadi.
Ingin sekali membaca tulisan-tulisannya yang baru...

Ah...

Hamli segera membalas surat bundanya itu dengan mengatakan bahwa dia masih tetap memegang teguh pendiriannya untuk tidak beristri lebih dari seorang. 
Dimasa datang, dia tak akan mengubah pikirannya ini....
(hal. 392)

Wednesday, December 25, 2013

Perpustakaan untuk Rakyat: Dialog Anak dan Bapak oleh Ratih Rahmawati dan Blasius Sudarsono [2012]



Buku ini saya baca setelah menghadiri pertemuan Diskusi Refleksi Akhir Tahun Kepustakawanan Indonesia yang diselenggarakan oleh ISIPII (Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia) dan Kappa Sigma Kappa Indonesia pada hari Sabtu 21 Desember 2013 di kediaman Bapak Blasius Sudarsono. 

Pertemuan ini sekaligus memperingati 40 hari kepergian Ratih, sang anak dalam buku ini. Ratih lahir pada tanggal 4 July 1990 dan meninggalkan kita pada tanggal 12 November 2013. Meski masih muda, buku ini berbicara banyak tentang bagaimana seorang anak muda yang kritis, tangguh dan berani di masa nya. Buku yang ditulis bersama sang Bapak ini adalah buktinya.
Keinginan saya membaca buku ini adalah ingin mengenal lebih jauh sang Bapak, Anak dan sedikit tentang apa yang mereka diskusikan.

Sang Bapak

Secara pribadi, saya mengenal Bapak sejak saya masih mahasiswa diawal era 1990 saat saya masih menjadi mahasiswanya dan berkuliah di PDII LIPI jalan Gatot Subroto no 10, Jakarta.  Pertemuan yang lebih dalam dan intens terjadi sejak 2003 hingga kini. Diskusi, tukar pikiran atau sekadar curhat sering saya lakukan dengannya. Mungkin macam relasi Bapak dan Anak dalam buku ini. Percakapan dan diskusi kami akhirnya menelorkan sebuah  asosiasi independen APISI hingga kini.

Meskipun "Bapak" sudah dikupas pada halaman pertama buku ini, ternyata saya menemukan lebih dalam lagi siapa sosok "Bapak" lebih lanjut dari dialog maupun tulisan bersama ini.

Dalam buku ini sosok Bapak tergambarkan sebagai pribadi yang memiliki pemikiran-pemikiran penting dalam kepustakawanan Indonesia, yang patut diketahui oleh mereka yang berkecimpung didalamnya. 

Saya berhasil menghimpun 17 garis besar atau pokok - pokok pemikirannya (dan sedikit sifat dan karakternya) yaitu:

1. Apa, mengapa dan apa adalah tiga kata tanya yang selalu mennjadi kata kunci mendasar dalam setiap pemikiran dan tidakannya (p.4)
2. Jalan sunyi, berliku, dan mendaki-penuh pencarian dan penantian - penuh rintangan dan harapan, adalah arti dan makna yang menyertai perjalanan dalam dunia kepustakawanan yang sudah dilalui hingga masa pensiunnya tiba (idem, p.73)
3. Sombong (p.9); sinis (krn keadaan) (p.84); a simple librarian (p.122)
4. Baginya, hidup itu harus selalu dijalani dan dinikmati, namun tetap bereksperimentasi (p.19)
5. Selalu berusaha untuk bertransformasi menuju kebaikan (p.20)
6. Menawarkan konsep Perpustakaan untuk Rakyat (idem), yang dibagikan kepada 6 mahasiswa -termasuk Ratih- yang merupakan adaptasi beliau dari Tahta untuk Rakyat dari biografi Sri Sultan  Hamengkubuwono IX (p.72)
7. Pembiasaan berpikir kritis oleh masyarakat sebelum membaca (p.82)
8.Pustakawan adalah init atau fokus dari suatu perpustakaan. Dasar dari perpustakaan adalah pustakawannya (p. 89)
9. Roh pembelajaran sepanjang hayat harus menjiwai hidup perpustakaan dan juga pustakawannya (p.94)
10. Memprovokasi teman-teman di Perpusnas dengan pertanyaan apakah mereka berani mentargetkan tahun 2025 untuk menggabungkan tiga lembaga nasiona: Perpustakaan nasional; Arsip Nasional dan Museum Nasional menjadi SATU LEMBAGA NEGARA (p.95)
11. Dokumentasi berupaya menghimpun dan mengabadikan, jasa infomrasi adalah mendayagunakan himpunan yang dihasilkan (p.96)
12.Proses logis mencapai keahlian tertentu: Belajar -> Melakukan apa yang dipelajari -> meneliti dan Mengembangkan -> Mengajar hasil Litbang (p.97)
13. Pustakawan haruslah berperan sebagai pemimpin ..dia harus menjadi aktor atau aktris(p.123)
14. Kepala [pen-perpustakaan] harus mempunya kemampuan melihat (mata); harus punya kemampuan mendengar (telinga); harus punya kemampuan mengecap atau merasakan rasa (lidah) dan harus mempunyai kemampuan mengenal bau (hidung) (p.124)
15. Baginya, pustakawan sejati bukan hanya karena pendidikan, namun adalah mereka yang memiliki dan mau melaksanakan kepustakawan (p.125; 129)
16. Kepustakawanan menurut beliau adalah: 1. Panggilan hidup; 2. semangat hidup; 3. karya pelayanan dan 4. yang dilakukan secara professional (p.130; p. 131)
17. Lima sila dasar kemampuan seorang pustakawan adalah 1. berpikir kritis; 2. kemampuan membaca; 3. kemampuan menulis; 4. kemampuan kewirausahaan; 5. berlandaskan etika (p131)


Sang Anak
Saya tidak mengenal Ratih sedalam saya mengenal Bapak. Pertemuan dengannya seingat saya terjadi saat Bapak mempanelkan kami dalam sebuah Kuliah umum terbuka di PDII LIPI Jakarta, yang saat itu membicarakan kepustakawanan di tiga generasi, Bapak, Ratih dan saya.

Dalam halaman pembuka, sosok Ratih sang anak digambarkan sebagai pribadi muda yang masih mencari proses jatidiri untuk menjadi seorang pustakawan.(p.3)  Ia mempunyai kemauan yang kuat untuk mempelajari dan memahami kepustakawanan , serta tanggung jawab pribadi dalam menyelesaikan studi (idem).

Di bawah ini adalah pokok-pokok pemikiran yang dapat saya ambil dari bukunya:

1. Mulai mempertanyakan apa itu perpustakaan ketika ada yang bertanya apakah itu sama dengan Taman Bacaan (p. 9)
2. Mempunyai pemahaman bahwa perpustakaan adalah tempat untuk membaca dan memijam buku (p.11)
3. Menurutnya, kunjungan masyarakat ke perpustakaan disebabkan karena mereka membutuhkan, tertarik atau juga keberhasilan perpustakaan menarik masyarakat menggunakan layanana yang disediakan (p.13)
4. Berlogika bahwa pustakawanlah yang harus lebih dulu mencintai perpustakaan, namun merasa terpaksa dan galau untuk menjadi pustakawan meski studi di sekolah perpustakaan (p. 14)
5. Mempertanyakan minat baca dengan TBM, menganggap bahwa perpustakaan itu tempat ekslusif dan sukar diakses masyarakat umum sedangkan TBM lebih luwes karena informal (p. 17)
6. Menghabiskan 3 minggu untuk mengadakan observasi di tiga TBM di Yogya dan mengatakan bahwa studi ko-eksistensi Perpustakaan dan TBM untuk upaya menyinergikan keduanya perlu dilakukan secara lebih cermat, emdalam dan komprehensif (p.66)
7. Merasa senang jika ada pihak lain yang dapat memanfaatkan [pen-laporan] itu untuk studi mereka (p. 69)

Sang Bapak dan Sang Anak


Keduanya menghasilkan sebuah skema yang menggambarkan sinergi seperti yang dimaksud Ratih diatas:

Diagram Sinergi TBM dan Perpustakaan (p. 143)
 
 
Diakhir buku pada halaman 155, sebuah diagram konsep Perpustakaan untuk Rakyat dibuat, memberi gambaran yang jelas tentang makna sinergi perpustakaan dan TBM untuk menuju Perpustakaan Untuk Rakyat.
 

Wednesday, December 18, 2013

Sokola Rimba oleh Butet Manurung [2013]

Baca tulis setidaknya akan memberikan mereka lebih banyak pilihan karena hanya lewat pendidikanlah (yang tidak sekadar baca tulis hitung, tapi juga peningkatan kapasitas dan jaminan habitat tempat hidup) mereka mampu memposisikan diri terhadap dunia luar dan dengan merdeka menentukan arah pembangunannya sendiri. Mau tidak mau, ini harus! Karena modernitas sudah mulai menohok ke dalam kehidupan rimba [p.37]

Beberapa saat setelah membaca buku ini, muncul dalam otak saya bahwa apa yang terjadi dalam kegiatan sekolah Orang Rimba yang dilakukan oleh Butet Manurung ini adalah sebuah contoh bentuk kegiatan pendidikan yang sesungguhnya. Bahwa pendidikan tumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan peserta didiknya. Kegiatan baca tulis hendaknya juga merupakan tahap awal pendidikan selanjutnya. Butet membuktikan bahwa perjuangan pendidikannya benar benar membutuhkan proses yang luar biasa mulai dari menangani ketidakmauan hingga akhirnya tercipta suatu kehausan akan ilmu dan pengetahuan dari murid-muridnya.

Perjuangan literasi Butet berawal dengan kenyataan bahwa Orang Rimba tidak tertarik dengan kegiatan pendidikan yaitu baca dan tulis.  Baik itu para orang tuanya maupun anak-anaknya. Sebelum keterlibatan Butet di rimba Jambi ini, menurut Cerinay, salah satu Orang Rimba dewasa, pernah membeli buku-buku untuk mengajar anak-anak setempat membaca, mewarnai dan berhitung.
Tapi mereka tidak ada yang mau, sampai buku-buku itu kemudian rusak semua. Menurutnya, orang-orang di sini hanya berpikir bahwa mereka harus berusaha mendapatkan hasil-hasil rimba yang bisa dijual ke luat dan dapat menghasilkan banyak uang untuk membeli barang-barang seperti kue atau radio, tanpa sedikit pun ingin berpenghidupan seperti orang terang. Artinya, mereka suka sekali hutannya, suka juga mencari uang namun tidak dapat melihat kegunaan belajar baca-tulis-hitung.  Mereka tidak melihat adanya hubungan yang erat antara literacy dan pendapatan (dan tentunya juga berkaitan dengan kelestarian hutan, jika ingin kesejahteraannya bisa berkelanjutan ke anak cucu) [p.72]

Bahkan ketika Butet berhasil mengajak mereka untuk menikmati kegiatan menggambar, mereka masih belum tertarik denga kegiatan belajar. Apakah kalian ingin sekolah dengan aku?" Serta merta mereka meggeleng cepat, pensil dan kertas dilepaskan, lalu mereka asyik bermain sendiri, aku dicuekin. [p.35].  Bagusnya, Butet tidak mudah putus asa. Segala cara dan daya upaya dilakukannya untuk memenangkan keinginan anak-anak ini untuk belajar. Mulai dengan menggambar, bercerita hingga belajar naik sepeda. Ketika mereka merasakan keberhasilan bisa naik sepeda, lesson learned yang mereka dapatkan adalah: Segala sesuatunya memang dimulai dari tidak tahu tapi kalau belajar terus, jadi mahir. [p.102] Hubungan pribadi yang akrab dan menyenangkan dengan kombinasi kehidupan di alam rimba dan tantangan-tantangan yang dihadapi bersama menciptakan sebuah suasana belajar yang fleksibel, tidak kaku bahkan kadang menimbulkan kekocakan dari kepolosan anak-anak rimba ini.

Perlahan namun pasti, perubahan terjadi. Anak-anak rimba ingin sekolah. Sekitar tujuh anak Orang Rimba mendesakku untuk segera mengajarkan mereka angka dan abjad. Aku cukup khawatir dengan orang-orang tua yang terus mengawasiku [p.99]. Menarik untuk mengetahui respon mereka ketika Butet menawakan sekolah 'formal' yang ada di desa dekat rimba mereka. Tidak mau, guru di desa suka menghukum, tidak suka bercanda. Katanya mereka juga yang menentukan jam berapa sekolahnya dan apa yang dipelajari. Kami senang diajar kamu asal kamu masuk hutan. [p.104] Nah kelihatan sekali bagaimana Butet sudah menciptakan suasana belajar dan menumbuhkan keinginan anak-anak rimba untuk belajar. Hingga akhirnya salah satu anak mengungkapkan keinginannya. Ibu, beri kami sekolah!" [p.103]

Penasaran dengan strategi Butet dalam memberi pelajaran bagi orang rimba, berikut teknik-teknik pembelajaran dari Butet yang berhasil saya temui dari buku ini:

- Membuat kamus bahasa setempat.
Aku membuka kamus saku bahasa rimbaku yang cuma 100 kata itu. [p.11]
Dengan mengetahui bahasa setempat, komunikasi akan mudah terjalin.  Lebih dari itu, masyarakat setempat akan merasa mereka dihargai budayanya pula.  Suatu entry point untuk bisa diterima oleh komunitas setempat, sebelum lebih jauh masuk membawa 'misi' tertentu.

- Pura pura cuek untuk menangkap perhatian anak-anak.
Melakukan pendekatan dengan anak-anak rimba susah susah gampang. Tekhnik yang dilakukan Butet adalah pura-pura cuek.Akupun pura-pura cuek supaya dia penasaran [p.11]

- Menyesuaikan diri dengan kebiasaan lokal.  Ini mirip dengan mempelajari bahasa lokal. Hanya saja, apa yang dilakukan Butet memberi kesan 'kesaktian' Butet untuk menunjukkan bahwa pena dan notes bisa menjadi senjata 'kesaktian' yang dimaksud. Demikian juga dengan usaha menghafal nama-nama Orang Rimba dalam waktu cepat dengan menggunakan notes dan pena. Butet menunjukkan kemampuannya dengna menyebut 30 nama Orang Rimba kurang dari setengah jam karena ia mencatatnya [menggunakan pena dan notes]
Pada kunjungan ini aku hanya dapat menangkap kesempatan untuk "masuk" melalui dunia pantun mereka. Ketika mereka menyanyikan lagu-lagu rimba, aku merekamnya dalam recorder, lalu mencatat ulang di malam hari. Keesokan paginya menyanyikannya lagi bersama-sama....Ini membuat mereka terheran-heran. "Bonten seketi" (Butet sakti). Mereka bertanya....Aku lalu menjelaskan fungsi tape recorder dan menulis [p.31]

- Mengangkat kegiatan sehari-hari mereka dalam bentuk gambar dan tulisan.  Ini adalah teknik 'mengambil hati' pelan-pelan dengan memancing kegiatan belajar yang menyenangkan.
Mereka lalu ingin mencoba ikut menggambar....ada yang menggambar ular, tupai, babi dan kijang. Anak yang tidak kebagian pensil, aku ajak menggambar dengan ranting di atas tanah. [p.32]

Mereka bertanya, bagaimana aku bisa mengingat nama lebih dari 30 orang dalam waktu sesingkat itu  (kurang dari setengah jam)? Aku menunjuk notesku dengan pena.Aku tidak sadar bahwa itu sudah mencengangkan mereka....Nah disini aku bisa bacakan surat dari ibuku, buku cerita tentang sejarah kerajaan Jambi, komik-komik lucu tentant binatang....aku hanya melihat sedikit celah untuk mengenalkan baca dan tulis.

- Mental"Muridku adalah guruku". 
Untuk bisa masuk dalam kebudayaan masyarakat setempat, belajar dari orang-orang setempat merupakan kegiatan belajar mandiri sang guru juga.

Perjuangan Butet memberi pendidikan pada anak-anak rimba ini tidak sia-sia. Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran di sokola rimba, terbukti anak-anak bisa menghitung, mengalikan jumlah uang yang seharusnya didapat dari menjual hasil hutan; mereka bisa membaca surat kesepakatan baru antara Orang Rimba dan Desa Rantau Limau Manis. Dengan demikian mereka tidak terkecoh atau menandatangani sesuatu yang mereka tidak pahami. Tentu saja hal ini membanggakan masyarakat Orang Rimba [p.222-223].

Proses pendidikan yang sebenarnya adalah ketika anak-anak rimba akhirnya menemui pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari keingintahuan mereka sendiri seperti:  Apa itu Aceh; Kenapa orang tidak bisa bernapas sambil menelan? ;  kenapa tidak bisa tulis surat pengaduan tentang para pencuri kayu di hutan? Bahkan tidak tahu harus mengadu ke mana; kenapa sungai tiap tahun bertambah dangkal?; kenapa harga naik? Orang bilang subsidi pemerinta dikurangi karena hutang kita ke luar negeri banyak. Apa itu subsidi? Kenapa tidak cetak uang banak-banyak saja? [p.226] ; kenapa ada orang jahat, ada orang baik?; kenapa aku dilahirkan sebagai Orang Rimba? ; bisakah aku jadi dokter seperti Ibu Ati? [p.228]

Jika dikaitkan dengan kegiatan literasi informasi dalam kegiatan pendidikan, disinilah letak titik awal penerapan keterampilan literasi informasi. Mereka membutuhkan sumber-sumber informasi. Seandainya ada perpustakaan dengan koleksi yang 'bagus', saya yakin Orang Rimba akan dapat menjadi pembelajar seumur hidup, dan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari adalah ujian keterampilan mereka.  Apalagi kalau ada pustakawan yang mau mendampingi mereka belajar ... semacam guru pustakawan begitu. Sempurna.

Sekarang, saya siap menonton film garapan Riri Reza dan yang diproduseri oleh Mira Lesmana serta dibintangiPrisia Nasution ini. Usaha saya untuk membawa film ini masuk sekolah tempat saya bekerja berhasil.  Kepala Sekolah yang sudah membaca bukunya dan menonton filmnya, sangat terkesan serta menyetujui pemutaran filmnya. Rencananya, film ini akan diputar tanggal 29 Januari 2014 berkaitan dengan kegiatan Word Week. Saya rasa para siswa di sekolah internasional perlu juga tahu bagaiamana bentuk pendidikan yang sama sekali berbeda dari yang mereka alami selama ini dan belajar dari dalamnya. Apalagi kami juga berencana mengundang Riri Reza, Mira Lesmana, Prisia Nasution dan tentunya Butet Manurung. Ini akan memberi kesempatan untuk tanya jawab langsung.

Saya penasaran sekali untuk melihat visualisasi buku yang saya sukai ini.

Sunday, February 10, 2013

Catatan Sebuah Sudut: Kumpulan Esai H.U. Pikiran Rakyat 86-88 oleh Dr Dede Mulkan [2013]

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Dr Dede Mulkan yang ditulis saat beliau masih kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.  Kumpulan tulisan ini adalah tulisan yang pernah dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat dalam kurun waktu tahun 1986 hingga 1988 di sebuah rubrik yang disebut "Sebuah Sudut'.
 
Ada 49 tulisan yang dimuat dalam buku ini.  Isinya beragam mulai dari topik pendidikan,budaya, media/jurnalisme, organisasi, keagamaan, ketenagakerjaan, kedisiplinan, human interest dan nuansa alam. Topik pendidikan, misalnya,  tertuang dalam artikel berjudul Sipenmaru (hal. 5); Kursi Tidak Ada, Siswa SMP itu "Melantai" (hal.11); Kualitas Pendidikan, Pembicaraan Tanpa Henti (hal.24); Berulangkali: Hormat Kita Kepada Sang Guru (hal.30) dan Ketika Senandung Anak-Anak tidak Terdengar Lagi  (hal.116).  Ke enam tulisan ini mengangkat bagaimana situasi pendidikan di Bandung yang terpotret oleh penulis saat itu. Dalam Kualitas Pendidikan, Pembicaraan Tanpa Henti, misalnya, penulis mengangkat kondisi bagaimana segelintir "oknum" yang mencari kesempatan dalam kesempitan (hal.24-25) hingga gedung sekolah pun dikorbankan demi keuntungan yang ingin diraihnya. Situasi yang sebetulnya masih relevan dengan situasi saat ini setelah 25 tahun tulisan ini dipublikasikan.
 
Topik yang paling banyak diangkat adalah human interest. Terdapat 15 artikel yang menceritakan topik-topik terkait, misalnya tentang kebersihan kota Bandung yang diungkapkan dalam Untuk Bersih, Mulailah dari Diri Sendiri (hal.17); Akhirnya Sang Kudapun Bercelana (hal. 22) dan Kaitan Operasi Bersih dan Hubungan Antarsesama (hal. 38). Penulis mengangkat bagaimana kebijakan Walikota Bandung saat itu, Ateng Wahyudi,  menangani kebersihan kota dari kotoran kuda-kuda di area rekreasi di lingkungan Ganesha.  Penulis juga mengangkat kiprah walikota ini dalam tulisan Beberapa Kejutan yang Lahir dari Pak Ateng (hal.111). Dalam tulisan ini, dikisahkan bagaimana sang Walikota menggunakan sistem kartu berwarna merah, kuning dan hijau yang diberikan kepada ibu-ibu yang melahirkan sebagai warning apakah mereka masih bisa melahirkan -kartu hijau dan stop melahirkan - kartu merah. Cara sederhana untuk mengawasi program Keluarga Berencana.
 
Topik kedisiplinan juga merupakan sorotan penulis.  Kedisiplinan berlalu lintas yang tertuang dalam tulisan Diantara Lampu Kuning dan Lampu Merah (hal.40) dan Bersediakah Kita Menggunakan Angkutan Umum (hal. 42) serta disiplin waktu dalam tulisan Budaya "Tepat Waktu" Kapan Mulai? (hal.47).  Lagi, topik yang masih sangat relevan di masa kini.
 
Tulisan-tulisan di buku ini tergolong bacaan ringan namun sarat nilai-nilai sosial yang ternyata tidak lekang oleh waktu.  Tiap artikel tidak ditulis panjang lebar, namun singkat dan padat. Pembaca akan dengan cepat memahami ide penulis yang diangkat serta memvisualisasikan kembali situasi sosial saat tulisan-tulisan ini dibuat.  Penulis  juga mengangkat unsur-unsur media/jurnalisme saat itu. Ada tulisan berjudul Jika Kita Butuh Acara TVRI yang Bermutu (hal. 13). Saat itu belum banyak bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta seperti saat ini.  Penulis sudah menunjukkan concern nya terhadap tayangan bermutu yang dikaitkan dengan kewajiban membayar iuran televisi. Bentuk pajak yang saat ini sudah jauh berbeda situasinya. 
 
Buku ini ditutup dengan dua epilog yang mengungkapan peran dua orang yang berjasa bagi penulis yaitu si Temon, penjaja koran yang lebih dulu mengetahui apakah tulisan penulis dimuat di H.U Pikiran Rakyat dan "JR" yang membantu proses penulisan skripsi penulis.  Selain menikmati isi tulisan rubrik "Sebuah Sudut", pembaca juga dapat melihat contoh bentuk tulisan creative writing penulis.  Meski terdapat kesalahan ketik dalam beberapa bagian tulisan, buku ini dapat digunakan sebagai contoh bagi mereka yang ingin sekali mulai menulis. Tulislah apa yang anda lihat, tulislah apa yang anda rasa dan tuntaskanlah tulisan anda. Begitulah kira-kira yang saya pelajari dari buku ini.

Sunday, January 29, 2012

Ronggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari [2011]

Buku ini memuat tiga buku trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yaitu Buku Pertama: Catatan Buat Emak; Buku Kedua: Lintang Kemukus Dini Hari dan Buku Ketiga: Jantera Bianglala.

Buku pertama menceritakan proses Srintil yang akhirnya menjadi seorang ronggeng. Dukuh Paruk adalah Ronggeng, dan dukuh paruk tanpa ronggeng adalah mati. Sudah sekian lama Dukuh Paruk gersang tanpa seorang Ronggeng. Srintil yang saat itu berusia 9 tahun yang kemudian dianggap titisan Ronggeng yang sudah lama dinantikan di Dukuh Paruk. Desa Dukuh Paruk kental dengan adat tradisi turun temurun dengan kepercayaan penuh pada Ki Secamenggala. Hingga suatu saat kepandaian Srintil ber-ronggeng ditanggap oleh Sakarya, kakek Srintil dan Ki Kartareja, tetua dii Dukuh Paruk yang kemudian menjadi ayah angkatnya hingga Srintil menjadi Ronggeng.

Srintil sudah tidak berayah dan beribu lagi. Ke-duanya meninggal saat Srintil masih bayi. Meninggal karena keracunan tempe bongkrek dagangannya yang ternyata meracuni banyak warga Dukuh Paruk. Untuk membuktikan kalau racun itu bukan berasal dari tempe buatannya, kedua orang tuanya turut memakan tempe itu dan akhirnya meninggal.

Buku kedua: Lintang Kemukus Dini Hari adalah tentang hari-hari jaya Srintil sebagai seorang ronggeng. Menjadi ronggeng ternyata sama dengan menjadi seorang perempuan yang siap untuk melayani laki-laki yang tergiur dengan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Tentu saja dengan bayaran tinggi. Kehidupan Srintil semakin jaya, namun kerinduannya pada Rasus, pemuda impian yang akhirnya meninggalkan Dukuh Paruk untuk menjadi tentara, tidak tersampaikan. Rasus yang sebetulnya juga menaruh hati pada Srintil memilih untuk menyerahkan Srintil pada panggilannya menjadi ronggeng.

Dalam Jantera Bianglala, pembaca dibawa pada masa tersulit Srintil, yang terpaksa harus dipenjara karena dianggap terlibat dalam kerusuhan tahun 1965, karena Srintil sering memenuhi panggilan menari pada pertemuan-pertemuan yang ia sendiri tidak paham artinya. Srintil dipenjara, namun akhirnya dapat dibebaskan. Rasus mempunyai andil besar dalam hal ini. Srintil masih berharap penuh pada Rasus namun Rasus tidak membalasnya. Hingga pada suatu saat ada seorang pemuda, Bajus, yang menunjukkan perhatian pada Srintil dan 'berbeda' dengan pemuda-pemuda lainnya yang hanya menginginkan kemolekan tubuh Srintil. Harapan penuh ditampuknya pada Bajus, dan Srintil menunggu pinangannya. Hingga suatu malam, Srintil diajak menemani rapat dengan para pimpinan tempat Bajus bekerja, dan diluar dugaan Srintil, justru Bajus lah yang menyodorkan dirinya pada atasan Bajus agar proyek baru dapat jatuh ke tangannya.

Srintil begitu terkejut dan ia berhasil melarikan diri dengan susah payah. Cerita ini ditutup dengan penyakit jiwa yang menyerang Srintil. Penari Ronggeng itu akhirnya harus masuk ke dalam rumah sakit jiwa karena gangguan jiwa yang dideritanya. Siapa yang peduli dan merawatnya? Rasus. Pemuda yang akhirnya menjawab ya, saat pihak rumah sakit bertanya apakah Srintil calon istrinya. Dan jawaban itu membawa ketenangan jiwanya paling dalam.

Saturday, September 17, 2011

Madre by Dee [2011]

Setelah terpesona dengan cerita Perahu Kertas-nya Dee beberapa waktu lalu, saya terdorong untuk membeli buku Madre ini. Meskipun, awalnya saya berharap buku ini merupakan karya cerita utuh Dee - seperti Perahu Kertas tadi-, tapi saya tetap ingin membaca kumpulan tulisannya dalam buku ini.

Ada tiga belas tulisan yang terangkum dalam buku ini. Kisah-kisahnya berkisar dari cerita warisan tiba-tiba [Madre]; cinta ibu dan anak yang dikandungnya [Rimba Amniotik]; kupasan tentang perempuan [Perempuan dan Rahasia]; pengujian cinta yang datang tiba-tiba dan persahabatan [Have you ever?]; konsep tentang cinta dan Tuhan [Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan]; konsep alam dalam refleksi pribadi [Wajah Telaga dan Tanyaku pada Bambu]; perayaan cinta pada pasangan[33]; cinta yang tidak terwujudkan [Guruji]; waktu, hati dan doa [Percakapan di Sebuah Jembatan]; potret hidup modern pria dan wanita serta percintaannya [Menunggu Layang-layang] serta tulisan terakhir yang lagi-lagi tentang cinta [Barangkali Cinta].

Madre merupakan sebuah cerita unik yang menarik pembaca ke masa kecilnya. Mungkin cerita ini tepat bagi generasi yang masa remajanya adalah tahun 1980-an. Tentang sebuah produk roti khas yang mungkin saat ini masih bertahan ditengah-tengah persaingan bisnis bakery yang sangat ketat. Seperti juga dikisahkan dalam cerita ini, bagaimana warisan usaha bakery yang sedang mati suri, harus dibangkitkan lagi dengan sumber daya kaum lansia yang masih memiliki semangat yang tinggi serta kepercayaan dan loyalitas yang tidak pernah pudar pada produk roti yang telah dirintis sejak lama ini. Madre adalah biang roti, yang tidak pernah habis dan merupakan induk untuk menghasilkan produk roti yang beragam. Dee dengan terampil mengemas karakter para tokoh dengan semangat berbisnis serta menyelipkan kisah romans di penghujung ceritanya.

Cerita berjudul 33 mengingatkan saya pada seri Selamat 33 hasil karya Andar Ismail, yang memuat kumpulan 33 tulisan tentang satu topik kehidupan rohani Kristen. Alasan Andar memilih angka 33 adalah juga karena Kristus menghabiskan waktu hidupnya di dunia sebelum Ia mati, disalib dan bangkit kembali. Seperti juga yang ditulis Dee:

Mereka bilang, pada usia 33 Yesus mencapai Kesadaran Kristus, saat ia merelakan nyawanya demi kebenaran sejati [hal.109]

Magic of 33.


Sebuah cerita yang unik tentang Cinta dan Tuhan dalam Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan, yang dikemas dalam bentuk tanya jawab dengan wartawan juga merupakan tulisan favorit saya. Dalam satu penjelasannya, si Aku mengupas bawang acar hingga habis. Jelas konsekuensinya adalah mata yang perih hingga berlinangan air mata.

"Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa". Sambil terisak, yang bukan karena haru bahagia atau haru nelangsa, lagi aku berkata," Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban." [hal. 103]

Saya suka bagian itu.

Secara menyeluruh, tulisan yang singkat-singkat ini ternyata membawa sebuah makna yang tidak cetek. Menghibur, tapi juga membawa pada pertanyaan-pertanyaan hidup yang bagi sebagian orang yang mengalaminya bisa berkata: "bener banget lo Dee.."

Sunday, July 10, 2011

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken by Jostein Gaarder & Klaus Hagerup [1999; Terj.2011]

Aku berjalan menyusuri rak-rak perpustakaan.
Buku-buku tersebut menungguiku. Tak seperti manusia yang ingin berjarak denganku, buku-buku ini malah menawarkan diri untuk memperkenalkan diri mereka.
Bermeter-meter jajaran buku yang tak akan pernah mampu kubaca.
Dan, aku tahu: apa yang ada di sini adalah kehidupan yang merupakan pelengkap kehidupanku, yang menanti menanti untuk dimanfaatkan.
Tetapi hari-hari berlalu, dan kesempatan itu tetap tak tergapai – terabaikan.
Salah satu buku ini mungkin benar-benar bias mengubah hidupku.
Siapakah aku sekarang? Siapakah sebenarnya aku?
Der Grausame Genuss – Teste Ď‹ber die Gerheimnisse des Lesens
(Kenikmatan yang Kejam-Buku tentang Rahasia Membaca [hal 225]


Buku ini menjadi menarik karena mengangkat tokoh Bibbi Bokken yang adalah lulusan Jurusan Ilmu Perpustakaan [sama seperti saya, bedanya Bibbi Bokken dari Amerika dan saya dari Indonesia :)]. Buku ini lebih lanjut mengangkat kisah kecintaan Bibbi Bokken terhadap dunia keperpustakaan, perbukuan dan lebih lanjut tentang penciptaan sebuah buku lewat dua anak remaja yang merupakan sepupu yaitu Nils dan Berit.

Uniknya, Nils dan Berit awalnya tidak menyadari bahwa buku surat mereka dan kisah misteri yang menuntun mereka menjadi detektif cilik untuk memecahkan misteri yang dirancang Bibbi Bokken.

Gaarder yang adalah penulis novel filsafat Dunia Sophie, bersama Klaus Hagerup penulis ceria anak dan remaja asal Norwegia- setting dari cerita ini, menjadikan buku ini menjadi lebih menarik, karena mengaitkan alur cerita dengan beragam cerita dari buku-buku seperti Winnie The Pooh, Anne Frank, Astrid Lindgren, serta beberapa puisi.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian pertama adalah buku surat antara Nils dan Berit. Mereka saling menuliskan ‘catatan harian’ detektif mereka tentang misteri Bibbi Bokken.

Buku yang harus dibaca. Inti cerita buku ini menarik dan tak terduga tambahan lagi ranting-ranting cerita yang menguatkan ini ceritanya.

Siapa yang mengatakan A
Telah mengatakan A

Satu puisi yang diangkat adalah karya Jan Erik Vold [hal 128]

Highly recommended